Tuesday, November 25, 2025

Essay Memperingati Hari Guru

 

MAKNA HARI GURU DALAM MEMBANGUN MASA DEPAN INDONESIA

 Oleh: Murtiningsih dan Dinda Meilina

 

 

BAB I PENDAHULUAN

Hari Guru Nasional yang diperingati setiap tanggal 25 November merupakan momentum penting bagi bangsa Indonesia untuk merenungkan kembali peran strategis guru dalam pembangunan pendidikan nasional. Peran guru tidak dapat dilepaskan dari tujuan pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Tercapainya tujuan tersebut sangat ditentukan oleh kualitas dan kompetensi guru. Oleh karena itu, Hari Guru bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan refleksi nasional terhadap kontribusi guru dalam membangun pondasi peradaban bangsa.

Dalam literatur pendidikan global dan nasional, guru sering disebut sebagai the most influential school factor atau faktor sekolah yang paling berpengaruh terhadap hasil belajar siswa (Darling- Hammond, 2017; Hattie, 2009). Berbagai penelitian empiris menunjukkan bahwa kualitas guru memiliki pengaruh yang lebih signifikan dibandingkan kurikulum, sarana prasarana, maupun kondisi sosial ekonomi siswa. Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator pembelajaran aktif, pembimbing emosional, teladan moral, inovator metode pembelajaran, serta agen transformasi sosial. Dengan demikian, peringatan Hari Guru merupakan kesempatan untuk menegaskan kembali pentingnya pemajuan kualitas guru sebagai prioritas pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

Tantangan pendidikan Indonesia pada abad ke-21 semakin kompleks. Perkembangan teknologi digital, globalisasi, serta tuntutan kompetensi abad ke-21 seperti kreativitas, berpikir kritis, kolaborasi, dan komunikasi menuntut guru untuk terus beradaptasi dan meningkatkan kompetensinya. Pandemi COVID-19 yang terjadi sebelumnya juga membuka mata dunia pendidikan bahwa guru harus siap menghadapi perubahan cepat dengan literasi digital yang baik. Jurnal-jurnal pendidikan pasca pandemi menyoroti peningkatan kebutuhan pelatihan berbasis

teknologi, fleksibilitas pedagogik, dan kemampuan guru merancang pembelajaran hybrid yang efektif.

Selain tantangan kompetensi, guru juga berperan penting dalam menjaga keadilan pendidikan. Distribusi guru yang belum merata, kesenjangan kualitas antara daerah maju dan 3T, serta masih rendahnya kesejahteraan guru honorer menjadi isu fundamental yang sering dibahas dalam jurnal kebijakan pendidikan di Indonesia. Kondisi ini menegaskan bahwa peringatan Hari Guru juga harus dimaknai sebagai panggilan untuk memperbaiki sistem pendidikan secara struktural dan memastikan semua guru memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan berdaya.

Lebih jauh, dalam konteks pembangunan jangka panjang, guru memegang peran sentral dalam mempersiapkan generasi menuju visi Indonesia Emas 2045. Upaya menciptakan masyarakat cerdas, berkarakter, dan berdaya saing global tidak akan terwujud tanpa kontribusi guru sebagai pembentuk kualitas sumber daya manusia. Karena itu, Hari Guru mengandung pesan bahwa masa depan bangsa bergantung pada sejauh mana negara menghargai, memberdayakan, dan meningkatkan kualitas profesi guru saat ini. Perayaan ini bukan hanya simbol penghormatan, tetapi momentum untuk memperkuat komitmen kolektif dalam memperbaiki ekosistem pendidikan Indonesia.


                                                     BAB II 

                                                        ISI

        Berbagai kajian akademik menunjukkan bahwa guru merupakan faktor sekolah yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan akademik peserta didik. Penelitian Hattie (2009) melalui Visible Learning menyimpulkan bahwa efektivitas guru memiliki efek lebih besar dibandingkan kurikulum, lingkungan keluarga, maupun fasilitas sekolah. Hal ini diperkuat oleh temuan Darling- Hammond (2017) yang menjelaskan bahwa negara-negara dengan sistem pendidikan berkualitas selalu menempatkan guru sebagai pusat reformasi pendidikan.

Di Indonesia, hasil Asesmen Nasional (AN) menunjukkan bahwa kualitas pembelajaran meningkat secara signifikan di sekolah-sekolah yang didukung oleh guru yang mengikuti pelatihan profesional berkelanjutan. Pusat Penilaian Pendidikan Kemdikbud (Puspendik, 2022) mencatat bahwa kelas yang diajar oleh guru dengan kompetensi pedagogik tinggi cenderung memiliki kemampuan literasi dan numerasi yang lebih baik. Temuan ini membuktikan bahwa penguatan kapasitas guru adalah investasi paling strategis dalam membangun masa depan pendidikan Indonesia.

Hari Guru, dalam konteks ini, mengandung makna bahwa penghargaan terhadap guru tidak hanya bersifat simbolik, tetapi harus diwujudkan dalam kebijakan nyata seperti pengembangan kompetensi terstruktur, peningkatan kualifikasi akademik, dan penyediaan ruang inovasi pedagogik.

Selain sebagai penyampai ilmu, guru merupakan aktor utama pembentuk karakter peserta didik. Dalam Journal of Moral Education, Lickona (2012) menekankan bahwa keberhasilan pendidikan karakter bergantung pada keteladanan guru dalam menerapkan nilai moral di kelas. Guru menjadi figur panutan yang memengaruhi perilaku, sikap, dan kemampuan sosial emosional siswa.

Di Indonesia, konsep Profil Pelajar Pancasila menyoroti pentingnya karakter seperti gotong royong, integritas, nasionalisme, kemandirian, kritis, dan kreatif. Penelitian Zuchdi (2019) menunjukkan bahwa pembiasaan nilai-nilai ini lebih efektif melalui model pembelajaran yang dilakukan guru secara konsisten dibandingkan hanya melalui materi teori.


Oleh karena itu, makna Hari Guru juga terletak pada penguatan peran guru sebagai pembimbing moral bangsa. Di tengah tantangan seperti degradasi etika di media sosial, konflik sosial, dan meningkatnya perilaku intoleransi, guru menjadi pilar moral yang membentengi generasi muda dari krisis karakter.

Perkembangan teknologi menuntut guru menjadi pembelajar sepanjang hayat. Jurnal Computers & Education menyatakan bahwa penguasaan TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge) merupakan kompetensi kunci yang menentukan kualitas pembelajaran digital. Guru tidak lagi hanya menguasai konten pelajaran, tetapi juga harus memahami bagaimana teknologi dapat meningkatkan efektivitas pedagogi.

Di Indonesia, pandemi COVID-19 mempercepat transformasi digital pendidikan. Studi Sari & Prasojo (2021) menunjukkan bahwa guru yang mampu mengintegrasikan platform digital seperti Learning Management System (LMS), video learning, dan aplikasi kolaboratif mampu menciptakan pembelajaran yang lebih fleksibel dan mendorong keterlibatan siswa.

Peran guru dalam konteks digital tidak hanya mengoperasikan teknologi, tetapi juga:

 

·         Membimbing siswa memilah informasi valid dan hoaks.

·         Mengembangkan literasi digital dan etika digital.

·         Mengadaptasi model hybrid learning dan flipped classroom.

·         Mendorong kreativitas peserta didik melalui media digital.

 

Makna Hari Guru dalam era digital adalah pengingat bahwa guru harus terus berkembang dalam literasi teknologi agar dapat menyiapkan generasi unggul yang kompetitif secara global.

Kesenjangan pendidikan di Indonesia masih menjadi persoalan serius. Berbagai jurnal kebijakan pendidikan (Mustaghfiroh, 2020; Rosser, 2021) menunjukkan bahwa guru di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) menghadapi beberapa tantangan:

·         Kekurangan guru berkompeten.

·         Fasilitas terbatas.

·         Keterbatasan akses internet dan teknologi.

·         Pelatihan yang tidak merata.

·         Kesejahteraan yang belum memadai bagi guru honorer.

 

Ketimpangan ini berdampak pada rendahnya kualitas pembelajaran di banyak daerah. Hari Guru menekankan pentingnya pemerataan guru berkualitas agar semua anak Indonesia, tanpa memandang lokasi geografis, mendapatkan hak pendidikan setara.

Kebijakan seperti afirmasi guru daerah khusus, tunjangan profesi, dan distribusi guru berbasis kebutuhan perlu terus diperkuat. Makna Hari Guru dalam konteks ini adalah dorongan moral bagi negara untuk menciptakan sistem pendidikan yang berkeadilan.

Visi Indonesia Emas 2045 menargetkan terciptanya generasi unggul yang kompetitif secara global. Berbagai studi perencanaan pendidikan menegaskan bahwa pembangunan negara maju pada umumnya berfokus pada kualitas guru sebagai inti sistem (OECD, 2021). Guru berperan mempersiapkan generasi yang menguasai:

·         Literasi sains dan teknologi

·         Keterampilan abad ke-21

·         Kreativitas dan inovasi

·         Etika, moral, dan karakter

·         Kemampuan memecahkan masalah kompleks

·         Kesadaran global dan nasionalisme

 

Guru adalah "arsitek masa depan bangsa". Tanpa guru yang berkualitas, visi Indonesia Emas 2045 akan sulit diwujudkan. Karena itu, Hari Guru menjadi momentum untuk mempertegas bahwa pembangunan masa depan harus dimulai dari profesi guru: meningkatkan kesejahteraan, memberikan pelatihan berjenjang, dan memastikan ekosistem kerja yang kondusif.


BAB III 

PENUTUP


Hari Guru memiliki makna yang sangat mendalam dalam konteks pembangunan pendidikan dan masa depan bangsa. Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum, tetapi merupakan aktor utama yang menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Dari berbagai analisis dan temuan jurnal pendidikan, terlihat bahwa guru berperan sebagai penentu mutu pembelajaran, pembentuk karakter, agen transformasi digital, sekaligus penjaga keadilan pendidikan. Peran- peran strategis ini menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan nasional sangat bergantung pada keberhasilan negara dalam mengelola, memberdayakan, dan menghargai profesi guru.

Dalam perspektif mutu pendidikan, penelitian menunjukkan bahwa kualitas guru merupakan faktor paling berpengaruh terhadap pencapaian akademik peserta didik. Karena itu, Hari Guru harus dimaknai sebagai pengingat bahwa penguatan kompetensi guru merupakan prioritas utama dalam agenda reformasi pendidikan nasional. Peningkatan kualitas guru melalui pelatihan profesional berkelanjutan, pembaruan kurikulum pendidikan guru, dan evaluasi autentik merupakan langkah penting untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran di sekolah.

Di sisi lain, guru juga memiliki peran tak tergantikan dalam membentuk karakter bangsa. Dalam konteks krisis moral, maraknya hoaks, intoleransi, dan degradasi etika akibat teknologi, guru menjadi figur teladan yang menanamkan nilai-nilai Pancasila, budi pekerti, dan integritas kepada peserta didik. Pendidikan karakter bukan semata materi teoritis, tetapi praktik hidup yang dicontohkan guru dalam interaksi sehari-hari. Oleh karena itu, penguatan nilai dan keteladanan guru menjadi bagian penting dalam pembangunan generasi emas Indonesia.

Selain aspek moral, transformasi digital pendidikan yang semakin cepat menuntut guru untuk terus beradaptasi dengan teknologi. Era digital membawa peluang sekaligus tantangan: guru harus menjadi pembelajar sepanjang hayat yang mampu memanfaatkan teknologi untuk menciptakan pembelajaran inovatif, interaktif, dan bermakna. Guru tidak hanya harus melek teknologi, namun juga memiliki kemampuan kuratorial dalam memilah informasi, mengembangkan literasi digital siswa, dan memastikan teknologi digunakan secara etis. Hari Guru, dalam konteks ini, mengingatkan bahwa modernisasi pendidikan tidak akan berhasil tanpa modernisasi kompetensi guru.


Namun, tantangan besar masih ada. Kesenjangan kualitas pendidikan antara daerah maju dan daerah 3T menunjukkan bahwa pemerataan guru berkualitas masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi bangsa. Guru di daerah terpencil sering bekerja dalam kondisi dengan fasilitas terbatas, gaji tidak memadai, dan akses pelatihan yang minim. Makna Hari Guru menjadi panggilan moral bagi negara untuk memastikan keadilan pendidikan melalui pemerataan guru, peningkatan kesejahteraan, dan pemberian dukungan penuh bagi guru yang mengabdi dalam kondisi sulit. Guru tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian.

Pada akhirnya, dalam konteks visi Indonesia Emas 2045, guru merupakan fondasi utama dalam membentuk generasi berdaya saing global. Indonesia membutuhkan guru yang kompeten, berkarakter, sejahtera, dan dihormati. Tanpa penguatan profesi guru, tujuan besar negara untuk menjadi bangsa maju akan sulit dicapai. Oleh sebab itu, Hari Guru harus menjadi momentum untuk memperkuat kebijakan yang berpihak pada guru, menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, serta memperluas akses guru terhadap pelatihan dan inovasi pedagogik.

Dengan demikian, Hari Guru bukan hanya perayaan seremoni, melainkan momen refleksi bahwa masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas guru hari ini. Negara, masyarakat, dan lembaga pendidikan harus bekerja bersama memastikan guru memperoleh penghargaan yang layak, pengembangan profesional yang berkelanjutan, serta dukungan penuh dalam melaksanakan tugas kemanusiaan dan kebangsaannya. Membangun guru berarti membangun bangsa. Guru yang diberdayakan hari ini adalah pembentuk pemimpin masa depan Indonesia.

Garuda Chakti

Author & Editor

Resimen Mahasiswa Universitas PGRI Semarang masih merupakan Satuan dan mempunyai nama Satuan 927 Garuda Chakti. Komando resimen mahasiswa satuan 927 Garuda Chakti Universitas PGRI Semarang merupakan satuan yang berada dibawah naungan Mahadipa..

0 Comments:

Post a Comment