Showing posts with label Majalah Digital. Show all posts
Showing posts with label Majalah Digital. Show all posts

Wednesday, December 1, 2021

Hari Ayah Nasional

Garuda Chakti

 


Apapun panggilannya, beliau yang paling paham cara mencintai tanpa bilang cinta.


Selamat Hari Ayah Nasional- 

Karena beratnya tanggung jawab sebagai tulang punggung sekaligus kepala keluarga, ia biasanya jarang menunjukkan emosinya terang-terangan. Kadang kala kekhawatirannya tidak diucapkan langsung, tapi dari chat-nya yang galak dan berisik nyuruh cepat pulang. Kadang juga marahnya tidak secerewet ibu, tapi lebih banyak diam karena takut menyakiti hati anaknya. 




Tuesday, November 30, 2021

Hari Kemerdekaan Indonesia

Garuda Chakti

 




MERDEKA- Semangat Kemerdekaan Saat Pandemi.

Meskipun tahun ini kita tidak bisa memeriahkan kemerdekaan karena pandemi belum usai, bendera merah putih tetap harus berkibar dan semangat tak boleh padam. Karena kemerdekaan adalah sebuah keberhasilan para pahlawan kita merebut kembali hak kita yang sempat diambil alih oleh orang asing. 

Dan pada kemerdekaan Indonesia yang je 76 ini kita doakan yang terbaik untuk negeri kita, semoga negeri kita segera bebas dari wabah COVID-19, yang suka korupsi, yang suka mengadu domba, dan suka memfitnah semoga segera diberikan kesadaran dan akal fikiran yang baik. 

DIRGAHAYU INDONESIAKU 76.

INDONESIA TANGGUH, INDONESIA TUMBUH, INDONESIA BISA!!!

Hari Dharma Wanita

Garuda Chakti

 


Selamat Hari Dharma Wanita - 

Peran wanita, khususnya dalam lingkup keluarga sangat besar. senyuman terus terukir dalam keadaan apapun demi mewujudkan dunia yang terang benderang. Tekad dan semangatnya merupakan motor pergerakan. 

Tujuan dari didirikannya organisasi Dharma wanita adalah untuk mewujudkan kesejahteraan anggota dan keluarganya melalui peningkatan kualitas sumber daya anggota untuk mendukng tercapainya tujuan nasional.


Hari Peduli Korban Penyiksaan Nasional

Garuda Chakti

 

Hari Dukungan untuk Korban Penyiksaan Internasional - 26 Juni disediakan setiap tahunnya setiap tanggal 26 Juni untuk menentang kejahatan penyiksaan, untuk menghormati, dan untuk mendukung korban-korban di seluruh dunia.

Ini adalah hari di mana kita memberikan penghormatan kepada mereka yang telah merasakan hal yang tak terbayangkan. Ini merupakan kesempatan untuk dunia untuk bercakap melawan hal yang tak terkatakan. Hal ini telah berlanjut lama bahwa sebuah hari akan didedikasikan untuk mengingat dan mendukung jumlah korban penyiksaan di seluruh dunia.

—Mantan Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan

Pada Hari Dukungan untuk Korban Penyiksaan Internasional ini, kami mengungkapkan solidaritas kami dengan, dan dukungan untuk, ratusan ribu korban penyiksaan dan anggota keluarga mereka di seluruh dunia yang merasakan penderitaan tersebut. Kami juga mencatat kewajiban Negara tidak hanya untuk mencegah penyiksaan tetapi juga untuk memberi semua korban penyiksaan tukar rugi yang tepat dan efektif, kompensasi dan bentuk-bentuk sosial, psikologis, medis dan hal rehabilitasi lainnya. Kedua Majelis Umum dan Dewan Hak Asasi Manusia kini sangat mendesak Amerika untuk mendirikan dan mendukung pusat-pusat atau fasilitas rehabilitasi.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon 2012

Penyiksaan, merendahkan martabat manusia, praktik penangkapan dan penahanan sewenang-wenang memang bukan hal yang baru dan pelakunya bukan hanya dari kalangan masayarakat tapi juga dari kalangan pejabat pemerintah.

Atas dasar itu persoalan sangat berisiko tinggi, maka di setiap negara wajib melakukan perlindungan terhadap korban-korban penyiksaan. 

 


Tuesday, April 20, 2021

Hari Kartini

Garuda Chakti

 


SELAMAT HARI KARTINI 
Untuk menghargai jasa R.A Kartini dalam pergerakan dan penyebaran pemikiran-pemikirannya, maka setiap tangal 21 April diperingati sebagai hari nasional, Hari Kartini. Tujuan pada peringatan ini adalah mencapai kesetaraan gender melalui pergerakan emansipasi perempuan. 
Menariknya, perayaan hari kartini justru diisi dengan perlombaan memasak, merias dan berkebaya, yang mana hal ini bisa jadi tidak relevan dengan perkembangan zaman. 
Berikut adalah beberapa karya yang didedikasikan personil Menwa 927 untuk memperingati Hari Kartini 


Poster Karya Maskurotin Azizah

Cerpen Karya Riska

Pagi ini wanita tua itu kembali menarik gerobak sampah. Jalannya agak terpincang-pincang, entah karena kakinya sakit atau karena keberatan menarik gerobaknya. Sandal jepit yang mengalasi kakinya, seperti baju kaos dan roknya yang lusuh, sudah tak jelas warna aslinya. Entah karena terlalu lama usianya, atau karena terlalu banyak debu yang bersarang di sana. Karena mungkin berat, jalannya juga cuma nggremet seperti truk gandeng mercy yang kepalanya nonong itu. Pengendara di belakangnya memperlambat laju motornya, memberi kesempatan kendaraan dari lawan arah. Beberapa orang yang memburu waktu, mengantar istrinya berkebaya lengkap hendak upacara di kantor wali kota, mungkin berguman: bikin macet saja!

Karena bertepatan dengan hari peringatan tentang hakekat wanita Indonesia, tadi malam Si Tini, cucunya, iseng-iseng bertanya kepada perempuan itu.

“Tanggal 21 April itu hari apa mbah?”

“Ya, hari Minggu!” jawab Mak Inah dangkal, tanpa mengena pada esensi pertanyaan cucunya. Tini pun tak melanjutkan pertanyaannya. Ia tahu benar, tak ada jawaban yang lebih benar dari pada jawaban neneknya.

Ya, ia benar. Memang tanggal 21 April tahun ini jatuh padahari Minggu. Ia tidak salah sebab ia tidak lagi ingat akan pelajaran sejarah di sekolah dulu. Atau, ia memang tidak mengenal apa itu Hari Kartini, karena ia mungkin saja tidak pernah sekolah. Yang ia ingat hanyalah tugasnya setiap hari, menarik gerobak sampah. Dari unjung jalan, berhenti di depan setiap rumah, mengangkat tong sampah dari ban bekas lalu memuntahkan sampah bau itu ke perut gerobaknya. Begitulah seterusnya, sampai di akhir jalan itu.

Mak Inah, memang pernah mendengar ketika cucunya menghafal pelajaran sejarah. Si Tini, cucunya itu, mempunyai kebiasaan menghafal sambil membaca keras-keras kalimat yang dihafalnya. Supaya tidak mudah terlupa. Oleh karena itu, masih belum tegerus dari ingatannya ketika si Tini membaca keras-keras: Buku karangan R.A. Kartini adalah Habis Gelap Terbitlah Terang.

Tentu saja Mak Inah tak pernah tahu persis apa maskudnya, selain sekadar meraba-raba artinya. Menerjemahkan ala orang bodoh dan miskin. Adakah itu artinya, sehabis malam membungkus bumi lantas terbentanglah siang di hamparannya? Kalau itu artinya, bukankah itu hanyalah sebuah kebenaran umum yang cukup diterima saja? Kehendak Tuhan yang diawali ketika Ia menciptakan dunia dan mungkin akan diakhiri saat Ia mengirimkan kiamat?

 

Menurut Mak Inah, pendapat pribadinya, gelap diartikannya sebagai nasib rakyat kecil yang hidupnya tak seterang orang kaya. Lalu, terang dimaknainya sebagai rasa bahagia karena kemiskinan itu justru membuatnya tenang. Samar-samar pernah terlihat di televisi orang kaya seusianya yang bajunya bertuliskan ‘TAHANAN KPK’. Baginya kemiskinannya tidak pernah membuatnya menjadi pesakitan seperti orang kaya yang di TV itu. Bisa saja orang miskin hidupnya terang, dan bisa saja yang kaya hidupnya gelap.

Meski berat, gerobak Mak Inah sampai juga ke TPA. Tempat Pembuangan Akhir, pembuangan sampah. Pengalamannya selama ini yang lebih dari lima belas tahun menjadikannya hafal betul bahwa sampah pun mempunyai kasta. Kasta brahmana dan kasta sudra, kasta kaya dan kasta melarat.

Sampah dari rumah tingkat yang di bagian sampingnya ada kandang mercy, pajero, alphard atau setidanya, kijang dan macan hitma, biasanya berupa kotak-kotak bungkus pizza atau dunkin donat. Roti yang bentuknya budar seperti roda berselaput gula. Entah bagaimana rasanya ia tak pernah tahu. Lidahnya tak pernah bercerita tentang itu. Gambar-gambar itu saja yang bercerita kepadanya. Sedang sampah dari rumah-rumah kecil, biasanya hanya berupa sisa batang kangkung atau kulit terong yang dibungkus tas kresek.

Anehnya, Mak Inah tak pernah mengiri. Apalagi sampai bertanya-tanya kepada Tuhan mengapa ada orang kaya dan orang miskin. Ia tak pernah protes ketika ia bingung hari ini mau makan apa, sementara makluk-makluk itu kebingungan mau makan di mana. Baginya, sampah-sampah karton dan kardus itu kadang bisa menghapus kebingunagan itu, manakala ia sudah membawanya ke Haji Sakri, pengepul barang loak itu dan menukarnya dengan sejumlah uang.

Mak Inah, menambatkan gerobaknya di samping rumah sangat sederhana yang di sewa dari Pak RT. Becak yang warnanya sudah seperti batik karena terlalu sering di cat ulang itu sudah ada di halaman, di bawah pohon. Pertanda Mat Pithi, suaminya, yang semalaman mencoba mengais dinginnya malam untuk uang dua puluh ribuan sudah pulang. Begitulah, Mat Phiti lebih sering pulang pagi. Bila malam, ia melingkarkan tubuhnya di jok becaknya dan membalut dengan sarung di dekat perempatan lampu merah. Itu setelah lelah dan rasa kantuk mengalahkannya.

“Mak, sebaiknya hari ini Emak gak usah memulung,” kata Mat Pithi menyambut istrinya.

“Memangnya kenapa pak?”

“Ya, sekali-kali istirahatlah. Sehari dalam seminggu. Seperti para pegawai itu.”

“Mereka kan gak kerja sebulan juga di bayar. Kalau kita, gak kerja sehari berarti gak makan.”

Mat Phiti hanya manggut-manggut sambil menghabiskan sarapan paginya. Nasi dan sambal ikan asin. Benar juga, pikirnya.

“Kalau begitu, Emak pergi ke balai kota saja. Pasti di sana banyak totak bekas kue dan botol atau gelas akua.”

“Loh, di sana ada apa, pak?”

“Ada upacara.”

“Upacara apa?”

“Mana aku tahu toh mak, wong tukang becak kok ditanya soal upacara segala!”

“Ya sudah, aku kesana.”

 

Masih tetap mengenakan pakaian kerja seperti saat ia menarik gerobak sampahnya, Mak Inah menuju ke balai kota. Meski masih tetap berurusan dengan sampah, kali ini Mak Inah tidak menarik gerobak. Karung pastik besar yang dibawanya. Nangkring di punggungnya.

Di halaman balai kota, upacara itu dilakukan. Ibu-ibu, pegawai kantor walikota itu, memakai kebaya lengkap, pakaian tradisional adat Jawa. Juga istri wali kotanya. Pak walikota pun memakai beskap, jarik dan blankon. Lalu, dinyanyikan lagu ‘Ibu Kita Kartini”. Mak Inah, tiba-iba ingat tadi malam ketika si Tini menyanyikan lagu itu. Sebelum ia menanyainya tentang tanggal 21 April itu. Pertanyaan yang aneh!

Upacara telah selesaii. Pesta di kantor wali kota pun usai. Mobil-mobil kembali mengangkut para istri itu kembali ke rumahnya. Tidak seperti hari-hari biasanya, hari ini bapak-bapak itu seakan bersimpuh di kaki wanita. Dan, wanita seperti menjadi ratu sehari. Ibu-ibu itu sejak subuh telah pergi ke salon kecantikan. Hari ini ibu-ibu itu harus nampak cantik. Harus nampak bak seorang ratu. Konon, untuk ke salon itu mereka harus bayar mahal. Sama jumlahnya dengan gaji yang ia terima untuk tiga bulan. Gaji sebagai pengangkut sampah itu.

Tiba-tiba, Mak Inah ingat tentang Hari Kartini seperti yang dinyanyikan Tini tadi malam. Ya, hari ini 21 April adalah Hari Kartini. Lalu, ia tersenyum. Tanpa disadarinya, bibirnya bersiul: “Ibu kita Kartini, putri sejati…” Mengingat dan mengucap sepotong-sepotong lagu pendek itu. Sambil terus memunguti kotak kue, gelas dan botol plastik.

 

Ia akan terus berjuang seperti Kartini!

Wednesday, March 10, 2021

SUPERSEMAR

Garuda Chakti

 

Pada tanggal 11 Maret diperingati sebagai Surat Perintah Sebelas Maret atau sering disebut Supersemar. 

Surat ini berisi perintah yang menginstruksikan Soeharto, selaku Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk mengatasi situasi keamanan yang buruk pada saat itu.

Isi Supersemar adalah pemberian mandat kepada Letnan Jenderal Soeharto selaku Panglima Angkatan Darat dan Pangkopkamtib untuk memulihkan keadaan dan kewibawaan pemerintah serta penerima mandat harus melaporkan segala sesuatu kepada presiden.

Latar belakang lahirnya Supersemar adalah

  1. Situasi negara dalam keadaan kacau dan genting
  1. Untuk mengatasi situasi  yang tak menentu akibat pemberontakan G 30 S/PKI
  1. Menyelamatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia
  1. Untuk memulihkan  keadaan dan wibawa pemerintah

Pada awalnya, Letnan Jenderal Soeharto menawarkan diri untuk meredakan pergolakan rakyat pasca meletusnya Pemberontakan G 30 S/PKI. Presiden Soekarno yang saat itu sedang sakit, mengadakan pembicaraan dengan Mayjen Basuki Rahmat, Brigjen M. Jusuf, dan Brigjen Amir Machmud, dan didampingi dengan Dr. Subandrio, Dr. J. Leimena dan Dr. Chaerul Saleh. Ketiga perwira tinggi tersebut  bersama dengan komandan Resimen Cakrabirawa, Brigjen Sabur, diperintahkan membuat konsep surat perintah kepada Letjen Soeharto untuk memulihkan keadaan dan kewibawaan pemerintah. Setelah dibahas bersama, Presiden Soekarno menandatangani surat perintah yang kemudian  terkenal dengan nama Surat Perintah 11 Maret, atau SP 11 Maret, atau Supersemar.

Untuk isi Supersemar yang autentik tidak ditemukan karena surat perintah tersebut hilang sebelum diarsipkan.

“Selamat Hari Supersemar”

Berikut adalah beberapa karya yang didedikasikan personil Menwa 927 untuk memperingati Supersemar 

TANDA TANYA (?)

Karya Ghina Alifia

Supersemar..

Suatu surat yang menggemparkan satu Negara

Bertujuan untuk menjamin keamanan, kestabilitasan, dan kewibawaan negara,

Katanya..

banyak versi yang ada

Sebenarnya apa yang di sembunyikan?

Sejarah mana yang harusku percaya

Pertumpahan darah dimana-mana

Wilayah demi wilayah menjadi bukti nyata

Masih menjadi tanda tanya

Apakah surat ini akan menampakkan dirinya kembali?

Apakah dengan tujuan yang berbeda?

Dan apa, dan apa, dan apa

Disetiap surat yang kulihat selalu menggetarkan hatiku

Bukan perkara sepucuk surat cinta

Melainkan..

sepucuk surat yang mengakibatkan pertarungan melawan bangsa sendiri


Karya Nabila Fatin Aulia



Karya Siti Fatimah


Karya Silvia Wulansari

Sunday, March 7, 2021

Hari Perempuan Internasional

Garuda Chakti

 

    Sekarang ini kita hidup di zaman yang sudah mengalami perkembangan dan kemajuan di berbagai aspek.  Salah satunya sudut pandang orang terhadap perempuan.

    Di Indonesia sendiri dahulu kaum perempuan sangat dipandang sebelah mata oleh kaum laki-laki, dan seringkali direndahkan  kedudukannya. Berbeda dengan kaum lelaki yang di pandang tinggi derajatnya, dan memiliki kebebasan akses untuk melakukan aktivitas apapun dan yag terpenting bisa menempuh pendidikan setinggi-tingginya.

Mengapa semua itu bisa terjadi?

Hal tersebut bisa terjadi dikarenakan kaum laki-laki beranggapan bahwa peempuan itu lemah, perempuan itu tidak bisa apa-apa dan kodrat perempuan itu nantinya hanya masak, macak, dan manak jadi tidak perlu pendidikan yang tinggi karena nantinya akan berada di rumah untuk mengurus anak dan suami.

R.A Kartini membawa angin segar bagi kaum perempuan di Indonesia. Berkat beliau, di era yang sudah berkembang dan maju ini peran perempuan bukan suatu hal yang tabu lagi. 

kepala Negara Indonesia pun pernah di duduki oleh kaum perempuan yaitu Megawati Soekarno Putri. Banyak tokoh di Indonesia bahkan orang-orang terpandang berasal dari kaum perempuan, seperti di kutip dari www.gojek.com “sosok perempuan yang menjadi banyak inspirasi”

1.      Sri Mulyani

2.      Susi Pudjiastuti

3.      Tri Rismaharini

4.      Najwa Shihab

5.      Angkie Yudustia

6.      Anne Avantie 

Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh perempuan yang dapat menginspirasi. Dari informasi di atas dapat di katakana bahwa Negara Indonesia sudah mengupayakan penyetaraan gender antara kaum laki-laki dan perempuan. Dan dengan hal tersebut  sudah bissa mengilangkan pandangan tentang kaum perempuan sebagai kaum yang lemah.

Nah, untuk memperingati bahwa kaum perempuan juga memiliki hak dan kedudukan yang sama di mata dunia, sebentar lagi kita akan merayakan Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day) yang akan jatuh pada tanggal 8 Maret 2021, adanya hari besar ini merupakan salah suatu upaya untuk mensetarakan gender antara perempuan dan laki-laki dan menunjukkan pencapaian perempuan atas kesetaraan gender. Peringatan ini bukan hanya di rayakan di Indonesia saja, melainkan di seluruh penjuru dunia. (Karya Dyah Wiyati Kusuma Ningtyas)

Kata orang, perempuan sudah merdeka. Jauh dari segala deskriminasi, seksisme, misoginis, dan lain sebagainya. Namun kenyataannya, hal itu hanya dirasakan oleh perempuan yang punya privilege. 
Tidak terlalu mengherankan apabila orang yang punya privilege tidak sadar akan privilege tersebut. 

Privilege is when you think something is not a problem, because it's not a problem to you personally

 Orang yang selalu menyerukan bahwa "Perempuan sudah merdeka" ini justru terkesan apatis dan membungkam suara perempuan yang sedang memperjuangkan hak nya. Demikian jika hal ini tidak terjadi di sekitarmu, bukan berarti tidak ada. Kalau kamu tidak merasakan hal itu mungkin kamu berprivilase. Setidaknya jangan membuat suara mereka semakin tidak terdengar. 

Selamat Hari Perempuan Internasional

Berikut adalah beberapa karya yang didedikasikan personil Menwa 927 untuk memperingati Hari Perempuan Internasional


Karya Dimas Langgeng


WANITA TEGAR NAN PERKASA

                                                                    Karya : Yena

Wanita tegar nan perkasa

Rela berkorban demi keluarga

Berjuang menjadi pahlawan devisa

Untuk masa depan yang lebih bahagia

 

Waktu berlalu tanpa terasa

Jauh sudah berjalan meniti tangga

Suka duka kehiduoan di alam fana

Semua kau lewati dengan senyum ceria

 

Mesti badai prahara kadang menerpa

Dirimu selalu sabar menerima

Walau batin terluka dan kecewa

Namun semangat tetap menggelora

 



PEREMPUAN TERHEBAT

                                                                            Karya : Anna Mahlya Hatma

Seperti karang yang telah bertahan

Dari amukan ombak dilautan

Puluhan tahun lamanya

Bagaikan langi yang tetap kuat

Dari ganasnya badai yang menerpa

Dan sampai kapan pun

Keyakinan ku berkata…..

Bahwa ia tak kan pernah goyah

Meski sehebat apapun

Hantaman itu ingin meringkusnya

 

Dan sebuah payung

Akan menahan derasnya huja

Untuk melindungi mahluk lemah

Yang berada di bawahnya

Seperti itulah engkau

Perempuan hebat

 

Perempuan hebat…

Tak peduli seberapa kehidupan menggores

Dan menyiksa hati tulusmu

Mengoyak barisan kokoh perasaan mu

Tapi kau bertahan

Bahkan mampu melawan…..

 

Wahai perempuan hebat

Tak ada insan tanpa kasihmu

Tak ada kehidupan tanpa pelukanmu

Dan tak ada cerita tanpa bahagiamu

Tetaplah seperti itu perempuan hebat,

Karena kaulah malaikat hebat

Yang di kirim dengan syarat

Bertahan dengan kuat

Melindungi dengan hebat