Pahlawan yang setia itu berkorban, bukan buat dikenal namanya, tetapi semata-mata membela cita-cita

Pahlawan yang setia itu berkorban, bukan buat dikenal namanya, tetapi semata-mata membela cita-cita

Optimisme adalah keyakinan untuk mencapai kesuksesan.

Optimisme adalah keyakinan untuk mencapai kesuksesan.

Latest Posts

Tuesday, November 25, 2025

Essay Memperingati Hari Guru

Garuda Chakti

 

MAKNA HARI GURU DALAM MEMBANGUN MASA DEPAN INDONESIA

 Oleh: Murtiningsih dan Dinda Meilina

 

 

BAB I PENDAHULUAN

Hari Guru Nasional yang diperingati setiap tanggal 25 November merupakan momentum penting bagi bangsa Indonesia untuk merenungkan kembali peran strategis guru dalam pembangunan pendidikan nasional. Peran guru tidak dapat dilepaskan dari tujuan pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Tercapainya tujuan tersebut sangat ditentukan oleh kualitas dan kompetensi guru. Oleh karena itu, Hari Guru bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan refleksi nasional terhadap kontribusi guru dalam membangun pondasi peradaban bangsa.

Dalam literatur pendidikan global dan nasional, guru sering disebut sebagai the most influential school factor atau faktor sekolah yang paling berpengaruh terhadap hasil belajar siswa (Darling- Hammond, 2017; Hattie, 2009). Berbagai penelitian empiris menunjukkan bahwa kualitas guru memiliki pengaruh yang lebih signifikan dibandingkan kurikulum, sarana prasarana, maupun kondisi sosial ekonomi siswa. Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator pembelajaran aktif, pembimbing emosional, teladan moral, inovator metode pembelajaran, serta agen transformasi sosial. Dengan demikian, peringatan Hari Guru merupakan kesempatan untuk menegaskan kembali pentingnya pemajuan kualitas guru sebagai prioritas pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

Tantangan pendidikan Indonesia pada abad ke-21 semakin kompleks. Perkembangan teknologi digital, globalisasi, serta tuntutan kompetensi abad ke-21 seperti kreativitas, berpikir kritis, kolaborasi, dan komunikasi menuntut guru untuk terus beradaptasi dan meningkatkan kompetensinya. Pandemi COVID-19 yang terjadi sebelumnya juga membuka mata dunia pendidikan bahwa guru harus siap menghadapi perubahan cepat dengan literasi digital yang baik. Jurnal-jurnal pendidikan pasca pandemi menyoroti peningkatan kebutuhan pelatihan berbasis

teknologi, fleksibilitas pedagogik, dan kemampuan guru merancang pembelajaran hybrid yang efektif.

Selain tantangan kompetensi, guru juga berperan penting dalam menjaga keadilan pendidikan. Distribusi guru yang belum merata, kesenjangan kualitas antara daerah maju dan 3T, serta masih rendahnya kesejahteraan guru honorer menjadi isu fundamental yang sering dibahas dalam jurnal kebijakan pendidikan di Indonesia. Kondisi ini menegaskan bahwa peringatan Hari Guru juga harus dimaknai sebagai panggilan untuk memperbaiki sistem pendidikan secara struktural dan memastikan semua guru memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan berdaya.

Lebih jauh, dalam konteks pembangunan jangka panjang, guru memegang peran sentral dalam mempersiapkan generasi menuju visi Indonesia Emas 2045. Upaya menciptakan masyarakat cerdas, berkarakter, dan berdaya saing global tidak akan terwujud tanpa kontribusi guru sebagai pembentuk kualitas sumber daya manusia. Karena itu, Hari Guru mengandung pesan bahwa masa depan bangsa bergantung pada sejauh mana negara menghargai, memberdayakan, dan meningkatkan kualitas profesi guru saat ini. Perayaan ini bukan hanya simbol penghormatan, tetapi momentum untuk memperkuat komitmen kolektif dalam memperbaiki ekosistem pendidikan Indonesia.


                                                     BAB II 

                                                        ISI

        Berbagai kajian akademik menunjukkan bahwa guru merupakan faktor sekolah yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan akademik peserta didik. Penelitian Hattie (2009) melalui Visible Learning menyimpulkan bahwa efektivitas guru memiliki efek lebih besar dibandingkan kurikulum, lingkungan keluarga, maupun fasilitas sekolah. Hal ini diperkuat oleh temuan Darling- Hammond (2017) yang menjelaskan bahwa negara-negara dengan sistem pendidikan berkualitas selalu menempatkan guru sebagai pusat reformasi pendidikan.

Di Indonesia, hasil Asesmen Nasional (AN) menunjukkan bahwa kualitas pembelajaran meningkat secara signifikan di sekolah-sekolah yang didukung oleh guru yang mengikuti pelatihan profesional berkelanjutan. Pusat Penilaian Pendidikan Kemdikbud (Puspendik, 2022) mencatat bahwa kelas yang diajar oleh guru dengan kompetensi pedagogik tinggi cenderung memiliki kemampuan literasi dan numerasi yang lebih baik. Temuan ini membuktikan bahwa penguatan kapasitas guru adalah investasi paling strategis dalam membangun masa depan pendidikan Indonesia.

Hari Guru, dalam konteks ini, mengandung makna bahwa penghargaan terhadap guru tidak hanya bersifat simbolik, tetapi harus diwujudkan dalam kebijakan nyata seperti pengembangan kompetensi terstruktur, peningkatan kualifikasi akademik, dan penyediaan ruang inovasi pedagogik.

Selain sebagai penyampai ilmu, guru merupakan aktor utama pembentuk karakter peserta didik. Dalam Journal of Moral Education, Lickona (2012) menekankan bahwa keberhasilan pendidikan karakter bergantung pada keteladanan guru dalam menerapkan nilai moral di kelas. Guru menjadi figur panutan yang memengaruhi perilaku, sikap, dan kemampuan sosial emosional siswa.

Di Indonesia, konsep Profil Pelajar Pancasila menyoroti pentingnya karakter seperti gotong royong, integritas, nasionalisme, kemandirian, kritis, dan kreatif. Penelitian Zuchdi (2019) menunjukkan bahwa pembiasaan nilai-nilai ini lebih efektif melalui model pembelajaran yang dilakukan guru secara konsisten dibandingkan hanya melalui materi teori.


Oleh karena itu, makna Hari Guru juga terletak pada penguatan peran guru sebagai pembimbing moral bangsa. Di tengah tantangan seperti degradasi etika di media sosial, konflik sosial, dan meningkatnya perilaku intoleransi, guru menjadi pilar moral yang membentengi generasi muda dari krisis karakter.

Perkembangan teknologi menuntut guru menjadi pembelajar sepanjang hayat. Jurnal Computers & Education menyatakan bahwa penguasaan TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge) merupakan kompetensi kunci yang menentukan kualitas pembelajaran digital. Guru tidak lagi hanya menguasai konten pelajaran, tetapi juga harus memahami bagaimana teknologi dapat meningkatkan efektivitas pedagogi.

Di Indonesia, pandemi COVID-19 mempercepat transformasi digital pendidikan. Studi Sari & Prasojo (2021) menunjukkan bahwa guru yang mampu mengintegrasikan platform digital seperti Learning Management System (LMS), video learning, dan aplikasi kolaboratif mampu menciptakan pembelajaran yang lebih fleksibel dan mendorong keterlibatan siswa.

Peran guru dalam konteks digital tidak hanya mengoperasikan teknologi, tetapi juga:

 

·         Membimbing siswa memilah informasi valid dan hoaks.

·         Mengembangkan literasi digital dan etika digital.

·         Mengadaptasi model hybrid learning dan flipped classroom.

·         Mendorong kreativitas peserta didik melalui media digital.

 

Makna Hari Guru dalam era digital adalah pengingat bahwa guru harus terus berkembang dalam literasi teknologi agar dapat menyiapkan generasi unggul yang kompetitif secara global.

Kesenjangan pendidikan di Indonesia masih menjadi persoalan serius. Berbagai jurnal kebijakan pendidikan (Mustaghfiroh, 2020; Rosser, 2021) menunjukkan bahwa guru di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) menghadapi beberapa tantangan:

·         Kekurangan guru berkompeten.

·         Fasilitas terbatas.

·         Keterbatasan akses internet dan teknologi.

·         Pelatihan yang tidak merata.

·         Kesejahteraan yang belum memadai bagi guru honorer.

 

Ketimpangan ini berdampak pada rendahnya kualitas pembelajaran di banyak daerah. Hari Guru menekankan pentingnya pemerataan guru berkualitas agar semua anak Indonesia, tanpa memandang lokasi geografis, mendapatkan hak pendidikan setara.

Kebijakan seperti afirmasi guru daerah khusus, tunjangan profesi, dan distribusi guru berbasis kebutuhan perlu terus diperkuat. Makna Hari Guru dalam konteks ini adalah dorongan moral bagi negara untuk menciptakan sistem pendidikan yang berkeadilan.

Visi Indonesia Emas 2045 menargetkan terciptanya generasi unggul yang kompetitif secara global. Berbagai studi perencanaan pendidikan menegaskan bahwa pembangunan negara maju pada umumnya berfokus pada kualitas guru sebagai inti sistem (OECD, 2021). Guru berperan mempersiapkan generasi yang menguasai:

·         Literasi sains dan teknologi

·         Keterampilan abad ke-21

·         Kreativitas dan inovasi

·         Etika, moral, dan karakter

·         Kemampuan memecahkan masalah kompleks

·         Kesadaran global dan nasionalisme

 

Guru adalah "arsitek masa depan bangsa". Tanpa guru yang berkualitas, visi Indonesia Emas 2045 akan sulit diwujudkan. Karena itu, Hari Guru menjadi momentum untuk mempertegas bahwa pembangunan masa depan harus dimulai dari profesi guru: meningkatkan kesejahteraan, memberikan pelatihan berjenjang, dan memastikan ekosistem kerja yang kondusif.


BAB III 

PENUTUP


Hari Guru memiliki makna yang sangat mendalam dalam konteks pembangunan pendidikan dan masa depan bangsa. Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum, tetapi merupakan aktor utama yang menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Dari berbagai analisis dan temuan jurnal pendidikan, terlihat bahwa guru berperan sebagai penentu mutu pembelajaran, pembentuk karakter, agen transformasi digital, sekaligus penjaga keadilan pendidikan. Peran- peran strategis ini menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan nasional sangat bergantung pada keberhasilan negara dalam mengelola, memberdayakan, dan menghargai profesi guru.

Dalam perspektif mutu pendidikan, penelitian menunjukkan bahwa kualitas guru merupakan faktor paling berpengaruh terhadap pencapaian akademik peserta didik. Karena itu, Hari Guru harus dimaknai sebagai pengingat bahwa penguatan kompetensi guru merupakan prioritas utama dalam agenda reformasi pendidikan nasional. Peningkatan kualitas guru melalui pelatihan profesional berkelanjutan, pembaruan kurikulum pendidikan guru, dan evaluasi autentik merupakan langkah penting untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran di sekolah.

Di sisi lain, guru juga memiliki peran tak tergantikan dalam membentuk karakter bangsa. Dalam konteks krisis moral, maraknya hoaks, intoleransi, dan degradasi etika akibat teknologi, guru menjadi figur teladan yang menanamkan nilai-nilai Pancasila, budi pekerti, dan integritas kepada peserta didik. Pendidikan karakter bukan semata materi teoritis, tetapi praktik hidup yang dicontohkan guru dalam interaksi sehari-hari. Oleh karena itu, penguatan nilai dan keteladanan guru menjadi bagian penting dalam pembangunan generasi emas Indonesia.

Selain aspek moral, transformasi digital pendidikan yang semakin cepat menuntut guru untuk terus beradaptasi dengan teknologi. Era digital membawa peluang sekaligus tantangan: guru harus menjadi pembelajar sepanjang hayat yang mampu memanfaatkan teknologi untuk menciptakan pembelajaran inovatif, interaktif, dan bermakna. Guru tidak hanya harus melek teknologi, namun juga memiliki kemampuan kuratorial dalam memilah informasi, mengembangkan literasi digital siswa, dan memastikan teknologi digunakan secara etis. Hari Guru, dalam konteks ini, mengingatkan bahwa modernisasi pendidikan tidak akan berhasil tanpa modernisasi kompetensi guru.


Namun, tantangan besar masih ada. Kesenjangan kualitas pendidikan antara daerah maju dan daerah 3T menunjukkan bahwa pemerataan guru berkualitas masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi bangsa. Guru di daerah terpencil sering bekerja dalam kondisi dengan fasilitas terbatas, gaji tidak memadai, dan akses pelatihan yang minim. Makna Hari Guru menjadi panggilan moral bagi negara untuk memastikan keadilan pendidikan melalui pemerataan guru, peningkatan kesejahteraan, dan pemberian dukungan penuh bagi guru yang mengabdi dalam kondisi sulit. Guru tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian.

Pada akhirnya, dalam konteks visi Indonesia Emas 2045, guru merupakan fondasi utama dalam membentuk generasi berdaya saing global. Indonesia membutuhkan guru yang kompeten, berkarakter, sejahtera, dan dihormati. Tanpa penguatan profesi guru, tujuan besar negara untuk menjadi bangsa maju akan sulit dicapai. Oleh sebab itu, Hari Guru harus menjadi momentum untuk memperkuat kebijakan yang berpihak pada guru, menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, serta memperluas akses guru terhadap pelatihan dan inovasi pedagogik.

Dengan demikian, Hari Guru bukan hanya perayaan seremoni, melainkan momen refleksi bahwa masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas guru hari ini. Negara, masyarakat, dan lembaga pendidikan harus bekerja bersama memastikan guru memperoleh penghargaan yang layak, pengembangan profesional yang berkelanjutan, serta dukungan penuh dalam melaksanakan tugas kemanusiaan dan kebangsaannya. Membangun guru berarti membangun bangsa. Guru yang diberdayakan hari ini adalah pembentuk pemimpin masa depan Indonesia.

Wednesday, December 6, 2023

SEMINAR LATPINTRI “Woman Leadership demi Inklusivitas Masa Depan”

Garuda Chakti

 

SEMINAR LATPINTRI

“Woman Leadership demi Inklusivitas Masa Depan”

 

Unit Kegiatan Mahasiswa Resimen Mahasiswa (Menwa) Satuan 927 Garuda Chakti Universitas PGRI Semarang menyelenggarakan Seminar Nasional LATPINTRI (Latihan Kepemimpinan Putri) dengan Tema “Woman Leadership demi Inklusivitas Masa Depan.” Latihan Kepemimpinan Putri merupakan program kerja dari bidang keputrian yang bertujuan untuk membentuk pribadi yang berkarakter dan berjiwa pemimpin. Hal ini dilakukan guna membentuk karakter kepemimpinan pada sesorang perempuan terlepas dari stigma bahwa perempuan tidak bisa memimpin.  


Seminar  LATPINTRI ini diselenggarakan pada hari Sabtu 25 November 2023 di Gedung Pusat lantai 7 Universitas PGRI Semarang. Acara Pembukaan ini dihadiri oleh  tiga Lembaga tinggi di lingkungan Universitas PGRI Semarang dan Staf Komando Resimen Mahasiswa Mahadipa (Skomen). Kegiatan ini diikuti oleh  71 peserta perempuan dari perwakilan mahasiswa umum dan delegasi Menwa Se-Semarang.

Seminar ini dimulai pukul 13.00 WIB dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Acara selanjutnya adalah sambutan Komandan Resimen Mahasiswa Muhammad Nur Cahya dan Sambutan sekaligus membuka acara dari Staf Komando Resimen Mahasiswa Jawa Tengah (Skomen) Dyon Seno R. acara selanjutnya adalah acara inti yaitu Seminar Latpintri dengan narasumber Kapten Cpm (K) Daniek Martian H., S.H. dari Pomdam IV/Diponegoro dan dimoderatori oleh Ellu Khosa Warningsih, S.Pd. alumnus Universitas PGRI Semarang.


Adapun pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan Seminar Latpintri ini adalah pengetahuan tentang organisasi yang meliputi pengertian, manfaat, fungsi, syarat pemimpin, tipe/gaya kepemimpinan. Selain itu dalam sebuah organisasi harus bisa mempromosikan kesetaraan gender agar wanita dan laki-laki memiliki peran yang sama, dan tidak menganggap wanita sebagai mahluk yang lemah. Dengan begitu, wanita juga tidak boleh melupakan kodratnya sebagai wanita.


Peserta kegiatan Seminar Latpintri sangat antusias. Hal ini ditunjukkan pada sesi tanya jawab dibuka, dimana banyak sekali peserta yang mengacungkan tangan untuk bertanya kepada narasumber kita. Setelah acara seminar dan tanya jawab selesai dilanjutkan dengan sesi foto bersama dan kegiatan seminar latpintri ditutup. 

 

Friday, December 3, 2021

WEBINAR NASIONAL BELA NEGARA DAN KEPEMIMPINAN RESIMEN MAHASISWA

Garuda Chakti


Melihat kondisi saat ini,dimana banyak pemuda pemudi yang memiliki pemikiran kritis mengenai negaranya. Tentu saja ini merupakan peluang yang bagus karena masih banyak pemuda yang mau membela negaranya. Sekarang ini, sudah bukan era nya mengangkat senjata untuk bela negara. Dengan pemikiran terbuka dan jiwa kepemimpinan yang tertanam, itulah cara supaya kita bisa membela negara kita. Diiringi dengan era revolusi yang terus menerus berkembang, maka dari itu Resimen Mahasiswa memberikan wadah bagi para pemuda pemudi untuk memiliki pengetahuan lebih tentang strategi kepemimpinan seperti apa yang bisa para pemuda lakukan untuk mewujudkan bela negara menyongsong era revolusi 5.0.

Adanya alasan di atas, UKM MENWA Satuan 927 Garuda Chakti Universitas PGRI Semarang turut berkontribusi dengan melaksanakan webinar yang bertema “Strategi Aktualisasi Kepemimpinan Pemuda Pemudi dalam Mewujudkan Bela Negara di Era Revolusi 5.0” pada hari sabtu (28/8). Acara dimulai pada pukul 08.00 dan selesai pada pukul 12.00 WIB. Webinar ini disiarkan melalui zoom meeting dan livestreaming youtube.

Pada acara Webinar Nasional Bela Negara dan Kepemimpinan dibuka langsung oleh pembina UKM MenwaSatuan 927 Garuda Chakti Universitas PGRI Semarang yaitu Bapak Dr. Wahyu Widodo, S.H., M.Hum. dan ikuti oleh ± 130 peserta dari lingkup Resimen Mahasiswa, Mahasiswa, maupun masyarakat umum.

Dalam webinar tersebut UKM MENWA Satuan 927 Garuda Chakti Universitas PGRI Semarang menghadirkan 2 pemateri yang tentunya sangat menarik yaitu, Bapak Drs.Sinoeng Noegroho Rachmadi, MM (Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan PariwisataJawa Tengah) dan Bapak Dr.Rasminto, M.Pd. (Kapustannas Konas Menwa Indonesia dan dosen Geografi UNISMA).

Pada kesempatan webinar ini, ada 2 materi yang disampaikan oleh pemateri kita. Materi yang pertama dibawakan oleh Bapak Sinoeng dengan bahasan materi Perubahan Global. Dalam bahasan materi ini dapat diperoleh informasi mengenai tantangan global yang disebabkan oleh 7F WAR (PROXY WAR) yaitu:

-          Food

-          Film & Fantasy

-          Fashion

-          Finance

-          Fuel

-          Filosofi

Saat ini tantangan yang dihadapi oleh anak muda diantaranya, Narkoba, Radikalisme dan Hoax.

Ada beberapa kalimat motivasi yang diberikan oleh Bapak Sinoeng diantaranya

-          Apa yang sering kamu katakan biasanya berawal dari apa yang kamu fikirkan, apa yang kamu fikirkan apa yang kamu kata kan memberikan konstribusi terhadap apa yang menjadi kebiasaan dan kebiasaan itu juga akan mempengaruhi terhadap perilaku dan perilaku jika terus menerus dilakukan akan mempengaruhi nasibmu.

-          Jangan pernah menyerah, tidak ada kegagalan kecuali kamu menyatakan berheti.

-          Tidak semua orang butuh nasihat, tapi semua orang ingin didengar.

-          Jadilah inspirasi bagi orang lain.

Materi kedua disampaikan oleh Bapak Rasminto dengan bahasan materi Strategi Kepemimpinan Pemuda dalam Menumbuhkan Kesadaran Bela Negara. Adapun 2 aksi dalam kepemimpinan yaitu

-          Membimbing organisasi dalam menghadapi perubahan yang terus menerus

-          Menawarkan keahlian menajemen untuk mengatasi perubahan yang terus menerus.

Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara. Pasal 27 ayat (3) UUD 1945.

Banyak muncul pertanyaan, bagaimana cara membangun strategi kepemimpinan pemuda dalam menumbuhkan kesadaran bela negara?

Cara membangunnya kita bisa mulai dengan memahami pentingnya makna dasar bela negara yang terdapat pada pasal 9 ayat (1) UU No.3 Tahun 2002 bela negara didefinisikan sebagai sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaanya kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara. setelah memahami makna tersebut kita bisa mengidentifikasi persoalan dan setelahnya kita akan mampu merumuskan solusi dalam menumbuhkan dan merasakan bela negara.

Penutup dari Bapak Rasminto

“Sejarah mencatat kita dapat dijajah begitu sangat lama karena kebodohan dan terpecah belah melalui devide et empera. Mulai saat ini kita harus sadar membangun negara bukan hanya sekedar melalui Pendidikan, namun juga harus di bangun dengan keberhimpunan.”

Webinar ditutup dengan upacara penutupan secara virtual  diikuti oleh peserta, pemateri, serta panitia dan diakhiri dengan sesi foto bersama. Harapan panitia terlaksananya kegiatan ini semoga bisa menjadikan anggota menwa satuan 927 garuda chakti lebih kreatif dan inovatif dalam membuat kegiatan di masa pandemi yang tidak biasa ini. Tak lupa panitia ingin menwa satuan 927 bisa menjadi salah satu contoh UKM yang tidak hanya terfokus di kegiatan lapangan saja melainkan dalam menjalankan kegiatan seperti webinar ini mereka mampu merancang dan mempersiapkan dengan semaksimal mungkin. "berusaha saling menghargai dan saling melengkapi" (Menwa Satuan 927 Garuda Chakti).

 

DOKUMENTASI KEGIATAN






Wednesday, December 1, 2021

Hari Ayah Nasional

Garuda Chakti

 


Apapun panggilannya, beliau yang paling paham cara mencintai tanpa bilang cinta.


Selamat Hari Ayah Nasional- 

Karena beratnya tanggung jawab sebagai tulang punggung sekaligus kepala keluarga, ia biasanya jarang menunjukkan emosinya terang-terangan. Kadang kala kekhawatirannya tidak diucapkan langsung, tapi dari chat-nya yang galak dan berisik nyuruh cepat pulang. Kadang juga marahnya tidak secerewet ibu, tapi lebih banyak diam karena takut menyakiti hati anaknya. 




Hari Sumpah Pemuda

Garuda Chakti

 




SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA - Pernyataan lahirnya bangsa dan kebangsaan Indonesia, digapai lalu diikrarkan dalam sidang pleno ke-3 Kongres Pemuda Indonesia II pada 28 Oktober 1928 di gedung Indonesisch Club Gebouw (Wisma Indonesia) di Jalan Kramat Raya No.106 Jakarta Pusat. Dicetuskan oleh sekelompok pemuda Indonesia pada masa pergerakan nasional. Merupakan puncak pemantapan ideologi ke-Indonesia-an dan peristiwa nasional yang membawa semangat nasionalisme ke tingkat yang lebih tinggi.

Pertama: Kami poetra dan poetri
Indonesia, mengakoe bersoempah darah
yang satoe, tanah Indonesia.

Kedoea:
 Kami poetra dan poetri
Indonesia mengakoe berbangsa yang
satoe, bangsa Indonesia.

Ketiga:
 Kami poetra dan poetri
Indonesia mendjoendjoeng bahasa
persatuan, bahasa Indonesia.

Kongres Pemuda II diselenggarakan oleh berbagai organisasi Indonesia, yakni Jong Java, Jong Soematra, Pemuda Indonesia, Sekar Rukun, Jong Islamieten Bond, Jong Celebes, Pemuda Kaum Betawi, dan Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia. Peristiwa Sumpah Pemuda merupakan keputusan Kongres Pemuda II yang mengikrarkan tumpah darah yang satu - tanah air Indonesia, berbangsa yang satu - bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan - bahasa Indonesia. Terbentuknya Sumpah Pemuda didorong oleh beberapa hal : perasaan persatuan, penggunaan bahasa Melayu yang dinamakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, dan usul untuk menyatukan organisasi pemuda saat Konggres Pemuda I tanggal 25-28 Desember 1927.

Saat penutupan Kongres Pemuda II, lagu Indonesia Raya pertama kali dikumandangkan. Kemudian dalam Kongres Rakyat Indonesia oleh GAPI di Jakarta 2325 Desember 1939, mengakui Indonesia Raya sebagai lagu persatuan dan Merah Putih sebagai bendera persatuan. Rumusan Sumpah Pemuda merupakan bentuk identitas nasional yang menjadi simbol persatuan dalam menggalang kekuatan untuk menghadapi kekuatan kolonial. Sumpah Pemuda juga sebagai fase kedua dari nasionalisme Indonesia, berupa konseptualisasi yang meletakkan solidaritas dan kepentingan bersama di atas primordialisme, suku, dan agama.

Hari Kesehatan Mental Sedunia

Garuda Chakti

 


... bahasa yang kita gunakan saat bertutur memiliki kekuatan untuk mempengaruhi respon mitra tutur. Jangan sampai, alih-alih mengungkapkan gagasan atau ekspresi, kita malah menyakiti hati mitra tutur.

-- Dessy Irawan --


Perjalanan tersulit dalam hidup adalah menemukan diri sendiri. 

Perjalanan terdalam ditengah kehidupan adalah merasa kehilangan jati diri. 

Perjalanan terindah dalam hidup adalah mampu membangkitkan kembali DIRI SENDIRI.

Mayoritas dari kita merasakan perasaan hampa, bingung, lelah, kehilangan , penuh tuntutan, putus asa dan bosan. 

Rasa yang terkadang sulit dipahami juga tidak diharapkan untuk berada di sisi. Nyatanya perasaan ini hadir dalam diri, entah siap ataupun tidak.

KETIDAKPASTIAN.

Beberapa dari kita merasakan terkungkung dari ketidakpastian. tentunya tidak menyenangkan. hanya saja, jika kita memang sudah berada dalam situasi ini, pernahkah terpikir : "lalu kita bisa apa ?"

Kondisi ketidakpastian menunjukkan nilai diri untuk dapat menunjukan respon perilaku dari suatu peristiwa yang tidak dibayangkan. Tapi ada satu hal yang mungkin luput dari pandangan yang ternyata begitu menguatkan yaitu harapan. 

Tuesday, November 30, 2021

Hari Solidaritas Hijab Internasional

Garuda Chakti



 Berawal dari larangan pemakaian sesuatu yang berbau simbol keagamaan di beberapa negara Eropa, temasuk hijab yang dikenakan oleh muslimah. Hal tersebut memicu kemarahan dari masyarakat, hingga melakukan protes kepada pemerintah. 

Buntut dari aksi tersebut, pada tanggal 4 September 2004 pemerintah London menyelenggarakan konferensi. Dihadiri oleh Syekh Yusuf Al Qardawi, Prof Tariq R, serta 300 delegasi dari 102 organisasi Inggris Internasional dan 35 negara lainnya menghasilkan dukungan kepada muslimah untuk bebas menggunakan hijab di tempat umum termasuk beberapa negara di Eropa.