MAKNA HARI GURU DALAM MEMBANGUN
MASA DEPAN INDONESIA
BAB
I PENDAHULUAN
Hari Guru Nasional yang diperingati setiap tanggal 25 November
merupakan momentum penting bagi bangsa Indonesia untuk merenungkan kembali
peran strategis guru dalam pembangunan pendidikan nasional. Peran guru tidak
dapat dilepaskan dari tujuan pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu
mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman,
bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis
dan bertanggung jawab. Tercapainya tujuan tersebut sangat ditentukan oleh
kualitas dan kompetensi guru. Oleh
karena itu, Hari Guru bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan refleksi nasional terhadap
kontribusi guru dalam membangun pondasi peradaban bangsa.
Dalam literatur pendidikan global dan nasional, guru sering disebut
sebagai the most influential school factor atau faktor sekolah
yang paling berpengaruh terhadap hasil belajar
siswa (Darling- Hammond, 2017; Hattie, 2009). Berbagai penelitian empiris
menunjukkan bahwa kualitas guru memiliki pengaruh yang lebih signifikan
dibandingkan kurikulum, sarana prasarana, maupun kondisi sosial ekonomi siswa.
Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai
fasilitator pembelajaran aktif, pembimbing emosional, teladan moral, inovator
metode pembelajaran, serta agen transformasi sosial. Dengan
demikian, peringatan Hari Guru merupakan kesempatan untuk menegaskan
kembali pentingnya pemajuan kualitas guru sebagai prioritas pembangunan sumber
daya manusia Indonesia.
Tantangan pendidikan Indonesia pada abad ke-21
semakin kompleks. Perkembangan teknologi digital, globalisasi, serta tuntutan kompetensi abad
ke-21 seperti kreativitas, berpikir kritis, kolaborasi, dan komunikasi menuntut
guru untuk terus beradaptasi dan meningkatkan kompetensinya. Pandemi COVID-19
yang terjadi sebelumnya juga membuka mata dunia pendidikan bahwa
guru harus siap menghadapi
perubahan cepat dengan literasi
digital yang baik. Jurnal-jurnal pendidikan pasca pandemi menyoroti
peningkatan kebutuhan pelatihan berbasis
teknologi, fleksibilitas pedagogik, dan kemampuan guru merancang
pembelajaran hybrid yang efektif.
Selain tantangan kompetensi, guru juga berperan
penting dalam menjaga
keadilan pendidikan.
Distribusi guru yang belum merata, kesenjangan kualitas antara daerah maju dan
3T, serta masih rendahnya kesejahteraan guru honorer menjadi isu fundamental yang sering dibahas dalam jurnal kebijakan pendidikan di Indonesia.
Kondisi ini menegaskan bahwa peringatan Hari Guru juga harus dimaknai sebagai
panggilan untuk memperbaiki sistem pendidikan secara struktural dan memastikan
semua guru memiliki kesempatan yang sama
untuk berkembang dan berdaya.
Lebih jauh, dalam konteks pembangunan jangka panjang, guru memegang peran sentral dalam mempersiapkan generasi menuju visi Indonesia Emas 2045. Upaya menciptakan masyarakat cerdas, berkarakter, dan berdaya saing global tidak akan terwujud tanpa kontribusi guru sebagai pembentuk kualitas sumber daya manusia. Karena itu, Hari Guru mengandung pesan bahwa masa depan bangsa bergantung pada sejauh mana negara menghargai, memberdayakan, dan meningkatkan kualitas profesi guru saat ini. Perayaan ini bukan hanya simbol penghormatan, tetapi momentum untuk memperkuat komitmen kolektif dalam memperbaiki ekosistem pendidikan Indonesia.
BAB II
ISI
Berbagai
kajian akademik menunjukkan bahwa guru merupakan faktor sekolah yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan
akademik peserta didik. Penelitian Hattie (2009) melalui
Visible Learning menyimpulkan
bahwa efektivitas guru memiliki efek lebih besar dibandingkan kurikulum, lingkungan keluarga, maupun
fasilitas sekolah. Hal ini diperkuat oleh temuan Darling- Hammond (2017) yang menjelaskan bahwa negara-negara dengan sistem pendidikan berkualitas selalu
menempatkan guru sebagai pusat reformasi pendidikan.
Di
Indonesia, hasil Asesmen Nasional
(AN) menunjukkan bahwa kualitas pembelajaran meningkat secara signifikan di sekolah-sekolah yang didukung oleh guru yang mengikuti pelatihan profesional berkelanjutan.
Pusat Penilaian Pendidikan Kemdikbud (Puspendik, 2022) mencatat bahwa kelas
yang diajar oleh guru dengan kompetensi pedagogik tinggi cenderung memiliki
kemampuan literasi dan numerasi yang lebih baik. Temuan ini membuktikan bahwa
penguatan kapasitas guru adalah investasi paling strategis dalam membangun masa
depan pendidikan Indonesia.
Hari Guru,
dalam konteks ini, mengandung makna
bahwa penghargaan terhadap
guru tidak hanya bersifat
simbolik, tetapi harus diwujudkan dalam kebijakan nyata seperti pengembangan
kompetensi terstruktur, peningkatan kualifikasi akademik, dan penyediaan ruang
inovasi pedagogik.
Selain sebagai penyampai ilmu, guru merupakan aktor
utama pembentuk karakter
peserta didik. Dalam Journal of Moral Education,
Lickona (2012) menekankan bahwa keberhasilan pendidikan karakter bergantung
pada keteladanan guru dalam menerapkan nilai moral di kelas. Guru menjadi
figur panutan yang memengaruhi
perilaku, sikap, dan kemampuan sosial emosional siswa.
Di Indonesia, konsep Profil Pelajar
Pancasila menyoroti pentingnya karakter seperti gotong royong, integritas, nasionalisme,
kemandirian, kritis, dan kreatif. Penelitian Zuchdi (2019) menunjukkan bahwa
pembiasaan nilai-nilai ini lebih efektif melalui model pembelajaran yang
dilakukan guru secara konsisten dibandingkan hanya melalui materi teori.
Oleh
karena itu, makna Hari Guru juga terletak pada penguatan peran guru sebagai
pembimbing moral bangsa. Di tengah
tantangan seperti degradasi etika di media sosial, konflik sosial, dan
meningkatnya perilaku intoleransi, guru menjadi pilar moral yang membentengi
generasi muda dari krisis karakter.
Perkembangan
teknologi menuntut guru menjadi pembelajar sepanjang hayat. Jurnal Computers & Education menyatakan
bahwa penguasaan TPACK (Technological
Pedagogical Content Knowledge) merupakan kompetensi kunci yang menentukan
kualitas pembelajaran digital. Guru tidak
lagi hanya menguasai konten pelajaran, tetapi juga harus
memahami bagaimana teknologi
dapat meningkatkan efektivitas pedagogi.
Di
Indonesia, pandemi COVID-19 mempercepat transformasi digital pendidikan. Studi
Sari & Prasojo (2021) menunjukkan
bahwa guru yang mampu mengintegrasikan platform digital seperti Learning Management System (LMS), video
learning, dan aplikasi kolaboratif mampu menciptakan pembelajaran yang lebih fleksibel dan mendorong keterlibatan siswa.
Peran guru dalam konteks
digital tidak hanya mengoperasikan teknologi, tetapi juga:
· Membimbing siswa memilah informasi valid dan hoaks.
· Mengembangkan literasi digital dan etika digital.
· Mengadaptasi model hybrid learning dan flipped classroom.
·
Mendorong kreativitas peserta
didik melalui media digital.
Makna Hari Guru dalam era
digital adalah pengingat bahwa guru harus terus berkembang dalam literasi teknologi agar dapat menyiapkan generasi unggul yang
kompetitif secara global.
Kesenjangan
pendidikan di Indonesia masih menjadi persoalan serius. Berbagai jurnal
kebijakan pendidikan (Mustaghfiroh, 2020; Rosser, 2021) menunjukkan
bahwa guru di daerah 3T
(Tertinggal, Terdepan, Terluar) menghadapi beberapa tantangan:
· Kekurangan guru berkompeten.
· Fasilitas terbatas.
· Keterbatasan akses internet dan teknologi.
· Pelatihan yang tidak merata.
·
Kesejahteraan yang belum memadai bagi guru honorer.
Ketimpangan ini berdampak pada rendahnya kualitas
pembelajaran di banyak
daerah. Hari Guru menekankan
pentingnya pemerataan guru berkualitas agar semua anak Indonesia, tanpa
memandang lokasi geografis, mendapatkan hak pendidikan setara.
Kebijakan
seperti afirmasi guru daerah khusus, tunjangan profesi, dan distribusi guru
berbasis kebutuhan perlu terus diperkuat. Makna Hari Guru dalam konteks ini
adalah dorongan moral bagi negara untuk menciptakan sistem pendidikan yang
berkeadilan.
Visi Indonesia Emas 2045 menargetkan terciptanya generasi unggul yang kompetitif secara global.
Berbagai studi perencanaan pendidikan menegaskan bahwa pembangunan negara maju
pada umumnya berfokus pada kualitas guru sebagai inti sistem (OECD, 2021). Guru
berperan mempersiapkan generasi yang
menguasai:
· Literasi sains dan teknologi
· Keterampilan abad ke-21
· Kreativitas dan inovasi
· Etika, moral, dan karakter
· Kemampuan memecahkan masalah kompleks
·
Kesadaran global
dan nasionalisme
Guru adalah "arsitek masa depan bangsa". Tanpa guru yang berkualitas, visi Indonesia Emas 2045 akan sulit diwujudkan. Karena itu, Hari Guru menjadi momentum untuk mempertegas bahwa pembangunan masa depan harus dimulai dari profesi guru: meningkatkan kesejahteraan, memberikan pelatihan berjenjang, dan memastikan ekosistem kerja yang kondusif.
BAB III
PENUTUP
Hari
Guru memiliki makna yang sangat mendalam dalam konteks pembangunan pendidikan
dan masa depan bangsa. Guru bukan sekadar pelaksana
kurikulum, tetapi merupakan aktor utama yang menentukan kualitas
sumber daya manusia
Indonesia. Dari berbagai
analisis dan temuan jurnal
pendidikan, terlihat bahwa guru berperan sebagai penentu mutu pembelajaran,
pembentuk karakter, agen transformasi digital, sekaligus penjaga keadilan
pendidikan. Peran- peran strategis ini menegaskan bahwa
keberhasilan pembangunan nasional
sangat bergantung pada keberhasilan negara dalam mengelola,
memberdayakan, dan menghargai profesi guru.
Dalam
perspektif mutu pendidikan, penelitian menunjukkan bahwa kualitas guru
merupakan faktor paling berpengaruh terhadap pencapaian akademik peserta didik.
Karena itu, Hari Guru harus dimaknai sebagai pengingat bahwa penguatan
kompetensi guru merupakan prioritas utama dalam agenda reformasi pendidikan nasional. Peningkatan kualitas guru melalui pelatihan profesional berkelanjutan,
pembaruan kurikulum pendidikan guru, dan evaluasi
autentik merupakan langkah penting untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran di sekolah.
Di sisi lain, guru juga memiliki peran tak tergantikan
dalam membentuk karakter bangsa. Dalam konteks krisis moral, maraknya hoaks,
intoleransi, dan degradasi etika akibat teknologi, guru menjadi figur teladan
yang menanamkan nilai-nilai Pancasila, budi pekerti, dan integritas kepada peserta
didik. Pendidikan karakter bukan semata materi teoritis, tetapi praktik hidup yang
dicontohkan guru dalam interaksi sehari-hari. Oleh karena itu, penguatan nilai
dan keteladanan guru menjadi bagian penting dalam pembangunan generasi emas
Indonesia.
Selain
aspek moral, transformasi digital pendidikan yang semakin cepat menuntut guru
untuk terus beradaptasi dengan teknologi. Era digital membawa
peluang sekaligus tantangan: guru harus menjadi pembelajar sepanjang hayat yang mampu
memanfaatkan teknologi untuk menciptakan pembelajaran inovatif, interaktif, dan
bermakna. Guru tidak hanya harus melek teknologi, namun juga memiliki kemampuan
kuratorial dalam memilah informasi, mengembangkan literasi digital siswa, dan
memastikan teknologi digunakan secara etis. Hari Guru, dalam konteks ini,
mengingatkan bahwa modernisasi
pendidikan tidak akan berhasil tanpa modernisasi kompetensi guru.
Namun,
tantangan besar masih ada.
Kesenjangan kualitas pendidikan antara daerah maju dan daerah 3T menunjukkan bahwa pemerataan guru berkualitas masih menjadi
pekerjaan rumah besar bagi bangsa. Guru di daerah
terpencil sering bekerja dalam kondisi dengan
fasilitas terbatas, gaji tidak memadai, dan akses pelatihan yang minim. Makna Hari Guru menjadi panggilan moral bagi negara untuk
memastikan keadilan pendidikan melalui pemerataan guru, peningkatan
kesejahteraan, dan pemberian dukungan penuh bagi guru yang mengabdi dalam
kondisi sulit. Guru tidak boleh dibiarkan berjuang
sendirian.
Pada
akhirnya, dalam konteks visi Indonesia Emas 2045, guru merupakan fondasi utama
dalam membentuk generasi berdaya saing
global. Indonesia membutuhkan guru yang kompeten, berkarakter, sejahtera, dan
dihormati. Tanpa penguatan profesi guru, tujuan besar negara untuk menjadi bangsa
maju akan sulit
dicapai. Oleh sebab
itu, Hari Guru harus menjadi
momentum untuk memperkuat
kebijakan yang berpihak pada guru, menciptakan lingkungan kerja yang kondusif,
serta memperluas akses guru terhadap pelatihan dan inovasi pedagogik.
Dengan demikian, Hari Guru bukan hanya perayaan seremoni, melainkan momen
refleksi bahwa masa depan Indonesia sangat ditentukan
oleh kualitas guru hari ini. Negara, masyarakat, dan lembaga pendidikan harus bekerja
bersama memastikan guru memperoleh penghargaan yang layak, pengembangan profesional yang berkelanjutan, serta dukungan penuh
dalam melaksanakan tugas kemanusiaan dan kebangsaannya. Membangun guru
berarti membangun bangsa. Guru yang
diberdayakan hari ini adalah pembentuk pemimpin masa depan Indonesia.





